Sinar matamu yang begitu terang cukup membuatku tenang.
Tak berkurang sedikitpun kegilaanku, ternyata aku semakin mencintaimu.. dalam keadaan sadar maupun tidak sadar.
Sudah lama aku menunggu saat-saat seperti ini, saat dimana aku bisa menatapmu meskipun harus berjibaku melawan sejuta rasa deg-deg-an ku.
Aku memimpikan saat-saat bisa menyelami banyak hal yang ada dibola matamu.
Ya, malam itu aku merasakannya.
Tapi... Untuk dapat bertemu, duduk berdua malam itu bukanlah hal mudah.
Memang butuh perjuangan, untuk mendapatkan kebahagiaan terkadang kita harus merasakat sakit dahulu.
Mungkin kamu tidak mengerti kata-kataku yang terlampau berbelit-belit ini.
Asal kamu tahu, butuh banyak keberanian yang harus aku kumpulkan untuk membuatmu duduk disini, bersamaku.
Aku
hanya ingin sedikit bertanya padamu..
Bagaimana rasanya ketika kau telah berusaha, bersusah payah untuk merencanakan satu kejutan ulangtahun untuk orang yang sangat kau sayangi tapi harus gagal hanya karena satu hal kecil tapi menimbulkan efek sakit dan kecewa yang sangat luar biasa, yang parahnya terjadi pada hari dimana beberapa saat lagi kejutan itu akan dilaksanakan..
Aku tahu ini bukan salahmu.
Mungkin ini salahku karena terlalu berlebihan menanggapi semua itu.
Selasa, 8 januari.
Pagi itu.. Aku bangun dengan semangat yang menggebu-gebu, karena tahu sebentar lagi rencana kejutan untukmu yang sudah aku rangkai sejak berbulan-bulan yang lalu akan dilaksanakan.
Tapi.. Aku tidak pernah tahu jika ternyata Tuhan berkehendak lain.
Hal yang selama ini aku takutkan benar terjadi.
Satu hal yang akhirnya membuatku mengurungkan niat untuk menjalankan rencanaku itu.
Salah seorang teman kelasku memperlihatkanku akan suatu hal mengenai dirimu.
Sebuah berita simpang siur atau hanya praduga yang belum tentu
kebenarannya.Bagaimana rasanya ketika kau telah berusaha, bersusah payah untuk merencanakan satu kejutan ulangtahun untuk orang yang sangat kau sayangi tapi harus gagal hanya karena satu hal kecil tapi menimbulkan efek sakit dan kecewa yang sangat luar biasa, yang parahnya terjadi pada hari dimana beberapa saat lagi kejutan itu akan dilaksanakan..
Aku tahu ini bukan salahmu.
Mungkin ini salahku karena terlalu berlebihan menanggapi semua itu.
Selasa, 8 januari.
Pagi itu.. Aku bangun dengan semangat yang menggebu-gebu, karena tahu sebentar lagi rencana kejutan untukmu yang sudah aku rangkai sejak berbulan-bulan yang lalu akan dilaksanakan.
Tapi.. Aku tidak pernah tahu jika ternyata Tuhan berkehendak lain.
Hal yang selama ini aku takutkan benar terjadi.
Satu hal yang akhirnya membuatku mengurungkan niat untuk menjalankan rencanaku itu.
Salah seorang teman kelasku memperlihatkanku akan suatu hal mengenai dirimu.
Sebuah berita simpang siur atau hanya praduga yang belum tentu
Tapi.. yang jelas hal itu mampu membuatku jatuh.
Entah mengapa aku begitu saja percaya dengan mudahnya hanya dengan melihat berita yang bersumber dari jejaring sosial semata.
Ya! mungkin karena aku terlalu sensitif jika mendengar hal apapun yang menyangkut dirimu.
Mungkin ketika membaca ini kau juga bertanya-tanya, perihal berita apa yang ku maksudkan itu sampai membuatku menulis seperti ini.
Aku hanya berdiam, aku
mencoba untuk terlihat baik-baik saja..
Aku berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikan kesakitanku.
Tapi, teman baikku mengetahui ketidak baik-baikanku.
Mereka bertanya padaku apakah aku baik-baik saja, dengan sedikit senyum memaksa aku menjawab bahwa aku baik-baik saja.
Namun, sepertinya usahaku sia-sia karena mereka tidak percaya.
Salah satu dari mereka menegurku, "hey, apa tidak sebaiknya kau jangan mudah percaya begitu saja atas apa yang ada dijejaring sosial, terkadang itu tidak seperti apa yang kau pikirkan."
Aku tersenyum..dan membalas perkataannya "sudahlah, aku sudah melupakan hal itu."
Dengan sigapnya dia menyela perkataanku "oke baiklah, kalau hal itu tidak jadi masalah, berarti rencana untuk surprise itu akan tetap dilaksanakan bukan?" ujarnya begitu bersemangat, yang kubalas hanya dengan senyuman karena memang tak lagi bersemangat membahas hal itu.
Aku berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikan kesakitanku.
Tapi, teman baikku mengetahui ketidak baik-baikanku.
Mereka bertanya padaku apakah aku baik-baik saja, dengan sedikit senyum memaksa aku menjawab bahwa aku baik-baik saja.
Namun, sepertinya usahaku sia-sia karena mereka tidak percaya.
Salah satu dari mereka menegurku, "hey, apa tidak sebaiknya kau jangan mudah percaya begitu saja atas apa yang ada dijejaring sosial, terkadang itu tidak seperti apa yang kau pikirkan."
Aku tersenyum..dan membalas perkataannya "sudahlah, aku sudah melupakan hal itu."
Dengan sigapnya dia menyela perkataanku "oke baiklah, kalau hal itu tidak jadi masalah, berarti rencana untuk surprise itu akan tetap dilaksanakan bukan?" ujarnya begitu bersemangat, yang kubalas hanya dengan senyuman karena memang tak lagi bersemangat membahas hal itu.
Hari itu aku benar-benar kacau,
sepanjang berlalunya jam pelajaran aku hanya terdiam.
Dalam hati dan pikiranku seperti terjadi peperangan antara meyakinkan diri atau menyerah.
Hal itu selalu membayangiku seperti mimpi buruk disiang bolong.
Aku ingin melampiaskan kekecewaanku, ingin rasanya kuhancurkan apapun yang ada didepanku, ingin kuhancurkan pula kado yang akan kuberikan padamu, aku tak ingin lagi melihatnya.
Tapi.. apa daya, kado itu tak ada padaku, ditanganku, dihadapanku.
Aku berteriak, menangis dalam hati.. Mengapa kau bisa sejahat ini padaku.
Aku sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi, aku kehabisan cara untuk tetap terlihat baik-baik saja.
Aku hanya ingin segera meninggalkan kelas, dan pulang kerumah secepatnya.
Dalam hati dan pikiranku seperti terjadi peperangan antara meyakinkan diri atau menyerah.
Hal itu selalu membayangiku seperti mimpi buruk disiang bolong.
Aku ingin melampiaskan kekecewaanku, ingin rasanya kuhancurkan apapun yang ada didepanku, ingin kuhancurkan pula kado yang akan kuberikan padamu, aku tak ingin lagi melihatnya.
Tapi.. apa daya, kado itu tak ada padaku, ditanganku, dihadapanku.
Aku berteriak, menangis dalam hati.. Mengapa kau bisa sejahat ini padaku.
Aku sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi, aku kehabisan cara untuk tetap terlihat baik-baik saja.
Aku hanya ingin segera meninggalkan kelas, dan pulang kerumah secepatnya.
---
Sesampainya dirumah, kuhempaskan pintu
kamar dan menguncinya rapat.
Aku membungkam wajahku dengan bantal dan menangis sejadi-jadinya.
Tak ada yang bisa menenangkanku kala itu, berjam-jam aku bergulat dengan bantal.
Mengurung diri didalam kamar..
Sampai akhirnya aku sadar.. bahwa mungkin hanya Tuhanlah yang memiliki solusi serta jawaban atas segala cerita yang telah ia buat ini. Aku menengadahkan tangan, berdo'a kepada Tuhan. Menyampaikan segala rasa, dan lewat do'aku aku bertanya, "kenapa engkau menciptakan rasa sakit yang seperti ini? Tuhan.. Jika jalanku salah, kenapa kau tak menyuruhku untuk berhenti. Mengapa engkau membiarkan aku mengaguminya sampai sedalam ini lalu menjatuhkan aku begitu saja seperti ini. Tuhan.. aku mohon, jangan biarkan aku seperti ini. Tolong.. Peliharalah hatiku, setidaknya hapuskanlah sedikit rasa sakit dihatiku. Dan ketika aku bangun esok hari nanti, jangan biarkan aku terlihat muram, kembalikanlah senyum serta keceriaanku. Terimakasih Tuhan.."
Rupanya Tuhan mendengarku.
Esok hari, ketika aku bangun rasanya ajaib.
Rasa sesak dan sakit dihatiku sedikit memudar.
Aku kembali tersenyum.. dan saat itu aku ingin semua orang tahu, bahwa aku bukanlah orang yang mudah menyerah begitu saja pada keadaan.
Melihat aku yang begitu ceria, teman sekelas sekaligus sahabat baikku bertanya "ayo, kapan kadomu kau berikan? Aku akan mengantarmu jika kau perlu teman." aku menjawab "forget it. Aku tidak akan memberikan itu padanya. Biarkan saja kado itu dirumahmu, simpan saja untukmu." Lalu dia kembali menyambar perkataanku "apaaa??untukku? Buat apa aku menyimpannya! Apa kau gila." balasnya kesal, dengan pasrah aku menjawab "aku tidak ingin melihat kado itu lagi, terserah mau kau apakan saja. Kalau kau tidak mau menyimpannya, yasudah buang saja". "dibuang? Hanya berhenti sampai situ saja perjuangmu selama ini? Harus hancur karena masalah twitter yg tidak jelas kebenarannya itu? Payah kau!." balasnya dengan penuh kekesalan. "bukannya begitu, tapi mungkin saja tuhan punya rencana lain yang kita sendiri gak tau apa." sahutku untuk sedikit menenangkannya.
Karena tak puas dengan jawabanku itu, dia masih saja mengomel, membujukku tapi aku tetap tak menghiraukannya.
Aku membungkam wajahku dengan bantal dan menangis sejadi-jadinya.
Tak ada yang bisa menenangkanku kala itu, berjam-jam aku bergulat dengan bantal.
Mengurung diri didalam kamar..
Sampai akhirnya aku sadar.. bahwa mungkin hanya Tuhanlah yang memiliki solusi serta jawaban atas segala cerita yang telah ia buat ini. Aku menengadahkan tangan, berdo'a kepada Tuhan. Menyampaikan segala rasa, dan lewat do'aku aku bertanya, "kenapa engkau menciptakan rasa sakit yang seperti ini? Tuhan.. Jika jalanku salah, kenapa kau tak menyuruhku untuk berhenti. Mengapa engkau membiarkan aku mengaguminya sampai sedalam ini lalu menjatuhkan aku begitu saja seperti ini. Tuhan.. aku mohon, jangan biarkan aku seperti ini. Tolong.. Peliharalah hatiku, setidaknya hapuskanlah sedikit rasa sakit dihatiku. Dan ketika aku bangun esok hari nanti, jangan biarkan aku terlihat muram, kembalikanlah senyum serta keceriaanku. Terimakasih Tuhan.."
Rupanya Tuhan mendengarku.
Esok hari, ketika aku bangun rasanya ajaib.
Rasa sesak dan sakit dihatiku sedikit memudar.
Aku kembali tersenyum.. dan saat itu aku ingin semua orang tahu, bahwa aku bukanlah orang yang mudah menyerah begitu saja pada keadaan.
Melihat aku yang begitu ceria, teman sekelas sekaligus sahabat baikku bertanya "ayo, kapan kadomu kau berikan? Aku akan mengantarmu jika kau perlu teman." aku menjawab "forget it. Aku tidak akan memberikan itu padanya. Biarkan saja kado itu dirumahmu, simpan saja untukmu." Lalu dia kembali menyambar perkataanku "apaaa??untukku? Buat apa aku menyimpannya! Apa kau gila." balasnya kesal, dengan pasrah aku menjawab "aku tidak ingin melihat kado itu lagi, terserah mau kau apakan saja. Kalau kau tidak mau menyimpannya, yasudah buang saja". "dibuang? Hanya berhenti sampai situ saja perjuangmu selama ini? Harus hancur karena masalah twitter yg tidak jelas kebenarannya itu? Payah kau!." balasnya dengan penuh kekesalan. "bukannya begitu, tapi mungkin saja tuhan punya rencana lain yang kita sendiri gak tau apa." sahutku untuk sedikit menenangkannya.
Karena tak puas dengan jawabanku itu, dia masih saja mengomel, membujukku tapi aku tetap tak menghiraukannya.
Sampai
akhirnya dia berkata padaku, jikalau memang aku tidak mau memberikan kado
itu padamu, dia yang akan berangkat untuk memberikannya padamu.
Aku pun mengabaikan perkataannya karena aku mengira itu hanya desakan semata yang tidak akan mampu mengubah pendirianku.
Satu bulan kemudian~
Sahabat baikku yang usil itu membuktikan perkataannya.
Ternyata mereka diam-diam merencanakan hal itu dibelakangku.
Pantas saja kenapa dia selalu tersenyum-senyum sendiri ketika menatap layar handphonenya sambil melihatku. Entah sejak kapan dia diam-diam mengirim BBM padamu, membuat janji untuk bertemu.
Aku tak habis pikir sebenarnya apa maksud mereka sehingga melakukan hal segila itu.
Aku pun mengabaikan perkataannya karena aku mengira itu hanya desakan semata yang tidak akan mampu mengubah pendirianku.
Satu bulan kemudian~
Sahabat baikku yang usil itu membuktikan perkataannya.
Ternyata mereka diam-diam merencanakan hal itu dibelakangku.
Pantas saja kenapa dia selalu tersenyum-senyum sendiri ketika menatap layar handphonenya sambil melihatku. Entah sejak kapan dia diam-diam mengirim BBM padamu, membuat janji untuk bertemu.
Aku tak habis pikir sebenarnya apa maksud mereka sehingga melakukan hal segila itu.
Bahkan aku tidak akan benar-benar tahu jika kau tak
menanyakan hal
Hanya bisa termenung kebingungan, ketika aku membaca pesan singkat darimu kala itu.
Aku mencoba mencari-cari alasan untuk menjawab pertanyaanmu itu.
Tapi sialnya aku bukan orang yang pandai bersandiwara, dengan mudahnya kau berhasil mengetahui apa yang sebenarnya.
Ya..dari sinilah semua hal indah itu baru akan dimulai.
Kau berjanji padaku jika kau akan menemuiku, untuk mengambil semua kado itu.
Secara tidak langsung, kau ingin aku mengambil kado yang aku titipkan dirumah temanku karena kau ingin aku sendiri yang memberikannya untukmu, bukan orang lain.
Entah aku harus senang atau bagaimana, ah! Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan.
Hanya bisa termenung kebingungan, ketika aku membaca pesan singkat darimu kala itu.
Aku mencoba mencari-cari alasan untuk menjawab pertanyaanmu itu.
Tapi sialnya aku bukan orang yang pandai bersandiwara, dengan mudahnya kau berhasil mengetahui apa yang sebenarnya.
Ya..dari sinilah semua hal indah itu baru akan dimulai.
Kau berjanji padaku jika kau akan menemuiku, untuk mengambil semua kado itu.
Secara tidak langsung, kau ingin aku mengambil kado yang aku titipkan dirumah temanku karena kau ingin aku sendiri yang memberikannya untukmu, bukan orang lain.
Entah aku harus senang atau bagaimana, ah! Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan.
23 februari.. Sabtu malam mingguku yang sangat istimewa.
Dingin malam itu tak mampu menghalangi keinginan kita untuk bertemu.
Kita sepakat untuk bertemu di gang dekat rumahku yang selalu menjadi tempat favoritku.
Karena disitu banyak sekali hal indah yang aku lewatkan bersamamu.
Kalau boleh sedikit mengingatkan.. Disitu, di gang itu, tempat dimana kau berhenti ketika pertama kali kau mengantarkanku pulang.
Disitulah awal mula kau membagikan sedikit kebahagiaan yang kauciptakan untukku.
Kau mulai menjadi bagian dari kenangan indah dalam hidupku.
Yang tak jarang membuatku tersenyum ketika mengingat semua itu.
Serasa terbang tinggi menembus langit malam.
Aku bertanya-tanya bagaimana bisa tempat sesederhana ini bisa menyimpan begitu banyak kenangan yang sangat istimewa, denganmu, hanya denganmu. iya, Berdua saja.
Aku berjalan menyusuri gelapnya malam, tanpa ada keraguan..
Aku menenteng kado itu dengan penuh semangat, tanpa peduli menjadi pusat perhatian orang-orang yang lalu lalang.
Pangeran misteriusku ternyata sudah datang.. terlihat kamu dengan kemeja rapimu, tampak sangat tampan dan menawan.
Aku melihat kamu disitu, beberapa meter dihadapanku.
Kau nampak payah karena mungkin bosan terlalu lama menungguku.
Aku sejenak menatapmu, ingin rasanya aku mengusap kening dan pipimu sembari berkata, "maaf.. aku telah membuatmu menunggu lama". Yaah.. Mungkin aku agak sedikit berlebihan, tapi memang inilah yang sebenarnya kurasakan. Tubuhmu yang menjulang.. membuatku ingin selalu merengkuhmu dalam pelukan. Ya, baiklah! Stop! Sepertinya aku sudah terlampau mengkhayal.
Kuatnya pesonamu, tatapanmu yang tajam, suaramu yang santai menyebabkan gerakan aneh dihatiku. Senyummu yang bisa kunikmati dari jarak sedekat ini, bahkan tak pernah yang sedekat ini.
Hanya malam ini, malam yang tak ingin terlewatkan begitu saja.
Andai aku bisa menghentikan waktu, aku ingin waktu berhenti sampai disini saja sehingga aku bisa terus menikmatinya tanpa takut semua itu akan berakhir begitu saja.
Senyummu masih terus mengguncangkan hati dan pikiranku.
Kau menyuruhku duduk disampingmu, kita mulai mencairkan suasana dengan membicarakan beberapa hal. Waktu begitu cepat berjalan, dan tanpa sadar kita sudah membicarakan banyak hal.
Sejenak aku termenung dan bergumam dalam hati "Tuhan, sekarang aku mengerti. Mungkin ini yang telah kau rencanakan selama ini. Maafkan aku tuhan jika aku sempat berfikiran buruk tentangmu. Aku mulai percaya tuhan, jika memang benar adanya.. bahwa rencamu itu lebih indah dari apa yang telah aku rencanakan. Terima kasih untuk kenangan yang begitu indah ini Tuhan..".
*hening* Hingga akhirnya teguranmu berhasil menyadarkanku dari lamunan.
Aku melirik ke arahmu sambil tersenyum.
Aku sendiri tak mengerti.. entah mengapa apapun yang kau lakukan terlihat begitu romantis dimataku.
Canda dan keusilanmu mampu membuat aku selalu merindukanmu..
Menghilang dan datang tiba-tibamu, membuat aku semakin ingin mencari tahu lebih dalam tentang dirimu..
Bahkan sikap cuek dan ngeselinnya pun selalu berhasil membuat aku menemukan alasan untuk selalu memaafkannya..
Aku merasa.. banyak sekali yang berbeda pada dirimu padaku malam itu.
Aku tidak tahu apakah itu memang benar atau hanya prasangkaku saja.
Tapi yang jelas aku saa..ngat senang.
Aku pernah mendengar bahwa ada pepatah yang mengatakan, "untuk mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa, terkadang kita harus merasakan jatuh yang sangat menyakitkan dulu." Aku rasa itu memang benar.
---
Suasana hatiku semakin berguncang, ketika kau
bertanya padaku seberapa besar arti dirimu untukku..
yang sangat ampuh membuatku bingung bagaimana aku harus menjelaskannya, karena tak ada kata yang mampu mengungkapkannya.
Bukan hanya itu, masih ada beberapa hal yang sangat aku ingat.
Ketika kau menggodaku dengan kekonyolan serta kejailanmu, yang membuatku semakin ingin terus bersamamu.
Ketika kau memegang tanganku yang kedinginan sambil tersenyum padaku, dan aku semakin ingin menahanmu untuk jangan pergi agar tetap disini, seperti ini.
Ketika kau mengusap manja pipi dan rambutku, yang membuatku ingin menyandarkan kepalaku dibahumu, memandang langit malam yang terlihat begitu indah.
Ketika kau mendekap bahuku untuk mengusir rasa deg-deg-an ku, yang bukannya malah mengusir tapi malah semakin menambah tingkat deg-deg-an ku naik ke rating yang paling tinggi.
Ketika kau mencium tanganku, aku benar-benar merasa seperti seorang putri yang sesungguhnya kala itu..
Entah apakah kau mengingat semua itu atau tidak.. yang jelas aku masih ingat betul setiap detail kejadiannya.
Bagaimana bisa kenangan yang seperti ini akan begitu saja terlupakan dari ingatan? Katakan padaku, bagaimana bisa?
"Oh tuhanku yang baik, tak bisakah kau memutar ulang waktu kembali? Ke masa dimana semua hal indah itu terjadi. Tuhan, jika hari itu adalah hari terakhirku untuk hidup didunia.. Pasti aku tidak akan menyesal, karena kau telah memberikan aku kenangan yang begitu indah bersama orang yang sangat aku sayangi sebelum aku pergi."
Aku tak pernah membayangkan jika semua akan menjadi seindah ini.
Sepanjang perjalanan pulang kerumah aku tak henti-hentinya membayangkan semua yang terjadi. Tersenyum-senyum sendiri, mencoba untuk meyakinkan diri jika semua itu bukan sekedar mimpi.
Dingin malam itu tak mampu menghalangi keinginan kita untuk bertemu.
Kita sepakat untuk bertemu di gang dekat rumahku yang selalu menjadi tempat favoritku.
Karena disitu banyak sekali hal indah yang aku lewatkan bersamamu.
Kalau boleh sedikit mengingatkan.. Disitu, di gang itu, tempat dimana kau berhenti ketika pertama kali kau mengantarkanku pulang.
Disitulah awal mula kau membagikan sedikit kebahagiaan yang kauciptakan untukku.
Kau mulai menjadi bagian dari kenangan indah dalam hidupku.
Yang tak jarang membuatku tersenyum ketika mengingat semua itu.
Serasa terbang tinggi menembus langit malam.
Aku bertanya-tanya bagaimana bisa tempat sesederhana ini bisa menyimpan begitu banyak kenangan yang sangat istimewa, denganmu, hanya denganmu. iya, Berdua saja.
Aku berjalan menyusuri gelapnya malam, tanpa ada keraguan..
Aku menenteng kado itu dengan penuh semangat, tanpa peduli menjadi pusat perhatian orang-orang yang lalu lalang.
Pangeran misteriusku ternyata sudah datang.. terlihat kamu dengan kemeja rapimu, tampak sangat tampan dan menawan.
Aku melihat kamu disitu, beberapa meter dihadapanku.
Kau nampak payah karena mungkin bosan terlalu lama menungguku.
Aku sejenak menatapmu, ingin rasanya aku mengusap kening dan pipimu sembari berkata, "maaf.. aku telah membuatmu menunggu lama". Yaah.. Mungkin aku agak sedikit berlebihan, tapi memang inilah yang sebenarnya kurasakan. Tubuhmu yang menjulang.. membuatku ingin selalu merengkuhmu dalam pelukan. Ya, baiklah! Stop! Sepertinya aku sudah terlampau mengkhayal.
Kuatnya pesonamu, tatapanmu yang tajam, suaramu yang santai menyebabkan gerakan aneh dihatiku. Senyummu yang bisa kunikmati dari jarak sedekat ini, bahkan tak pernah yang sedekat ini.
Hanya malam ini, malam yang tak ingin terlewatkan begitu saja.
Andai aku bisa menghentikan waktu, aku ingin waktu berhenti sampai disini saja sehingga aku bisa terus menikmatinya tanpa takut semua itu akan berakhir begitu saja.
Senyummu masih terus mengguncangkan hati dan pikiranku.
Kau menyuruhku duduk disampingmu, kita mulai mencairkan suasana dengan membicarakan beberapa hal. Waktu begitu cepat berjalan, dan tanpa sadar kita sudah membicarakan banyak hal.
Sejenak aku termenung dan bergumam dalam hati "Tuhan, sekarang aku mengerti. Mungkin ini yang telah kau rencanakan selama ini. Maafkan aku tuhan jika aku sempat berfikiran buruk tentangmu. Aku mulai percaya tuhan, jika memang benar adanya.. bahwa rencamu itu lebih indah dari apa yang telah aku rencanakan. Terima kasih untuk kenangan yang begitu indah ini Tuhan..".
*hening* Hingga akhirnya teguranmu berhasil menyadarkanku dari lamunan.
Aku melirik ke arahmu sambil tersenyum.
Aku sendiri tak mengerti.. entah mengapa apapun yang kau lakukan terlihat begitu romantis dimataku.
Canda dan keusilanmu mampu membuat aku selalu merindukanmu..
Menghilang dan datang tiba-tibamu, membuat aku semakin ingin mencari tahu lebih dalam tentang dirimu..
Bahkan sikap cuek dan ngeselinnya pun selalu berhasil membuat aku menemukan alasan untuk selalu memaafkannya..
Aku merasa.. banyak sekali yang berbeda pada dirimu padaku malam itu.
Aku tidak tahu apakah itu memang benar atau hanya prasangkaku saja.
Tapi yang jelas aku saa..ngat senang.
Aku pernah mendengar bahwa ada pepatah yang mengatakan, "untuk mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa, terkadang kita harus merasakan jatuh yang sangat menyakitkan dulu." Aku rasa itu memang benar.
---
yang sangat ampuh membuatku bingung bagaimana aku harus menjelaskannya, karena tak ada kata yang mampu mengungkapkannya.
Bukan hanya itu, masih ada beberapa hal yang sangat aku ingat.
Ketika kau menggodaku dengan kekonyolan serta kejailanmu, yang membuatku semakin ingin terus bersamamu.
Ketika kau memegang tanganku yang kedinginan sambil tersenyum padaku, dan aku semakin ingin menahanmu untuk jangan pergi agar tetap disini, seperti ini.
Ketika kau mengusap manja pipi dan rambutku, yang membuatku ingin menyandarkan kepalaku dibahumu, memandang langit malam yang terlihat begitu indah.
Ketika kau mendekap bahuku untuk mengusir rasa deg-deg-an ku, yang bukannya malah mengusir tapi malah semakin menambah tingkat deg-deg-an ku naik ke rating yang paling tinggi.
Ketika kau mencium tanganku, aku benar-benar merasa seperti seorang putri yang sesungguhnya kala itu..
Entah apakah kau mengingat semua itu atau tidak.. yang jelas aku masih ingat betul setiap detail kejadiannya.
Bagaimana bisa kenangan yang seperti ini akan begitu saja terlupakan dari ingatan? Katakan padaku, bagaimana bisa?
"Oh tuhanku yang baik, tak bisakah kau memutar ulang waktu kembali? Ke masa dimana semua hal indah itu terjadi. Tuhan, jika hari itu adalah hari terakhirku untuk hidup didunia.. Pasti aku tidak akan menyesal, karena kau telah memberikan aku kenangan yang begitu indah bersama orang yang sangat aku sayangi sebelum aku pergi."
Aku tak pernah membayangkan jika semua akan menjadi seindah ini.
Sepanjang perjalanan pulang kerumah aku tak henti-hentinya membayangkan semua yang terjadi. Tersenyum-senyum sendiri, mencoba untuk meyakinkan diri jika semua itu bukan sekedar mimpi.
Dan saat itu juga aku tau akan satu hal..
Jika memang benar, kamu adalah orang yang telah ditakdirkan Tuhan untukku.. apapun yang terjadi, dalam kondisi dan situasi apapun, aku percaya bahwa Tuhan pasti akan mengembalikan dan mempertemukan kita kembali.. tak peduli dengan siapapun kau sekarang, itu tak jadi masalah jika akhirnya nanti kau denganku. Karena aku masih menunggumu. Disini.
Dan aku tidak perlu takut karena ada Tuhan yang sudah mengatur segalanya.
Tugasku sekarang hanya menjalani hidup seperti air mengalir, membiarkan waktu yang berjalan dengan semua yang terjadi sebagai pelajaran untukku.
Februari... bulan yang begitu istimewa untukku.
Bulan yang sudah 3 tahun ini selalu menyisipkan kenangan yang begitu indah diantara kita berdua.
Semoga februari mendatang Tuhan juga menskenariokan hal yang sama indahnya. Amin.. :)
Tentunya dengan melalui perantara-perantara hebatnya.
Untuk februari 2013 kali ini, Tuhan mengukir kisah kita berdua melalui perantara dua makhluk usil ini (kikik dan pepi) karena tanpa mereka berdua, kado itu tak akan sampai ditanganmu.
Aku tidak akan melupakan kebaikan sekaligus kegilaan mereka berdua yang telah begitu berani membantuku..
Dan mengenai gang dekat rumahku, aku seringkali terdiam ketika melewati gang itu.
Tersenyum sendiri seperti orang gila, seolah masa itu terulang kembali karena masih sangat jelas teringat dipikiranku.
Ternyata sudah sangat lama aku mengagumimu, dan sudah sangat lama juga aku belum bisa move on dari bayang-bayangmu.
Sepertinya hatiku sudah terkunci rapat untuk orang lain, hanya ada kamu didalam situ.
Ingin rasanya aku membukanya kembali dan mengeluarkanmu dari sana. Tapi.. apa daya aku sudah membuang jauh-jauh kuncinya, yang tak pernah kutemukan lagi dimana keberadaannya.
Sehingga aku tak bisa berbuat banyak. Biarlah.. aku juga tidak keberatan menempatkanmu disitu, bahkan untuk waktu yang saaaangat lama.. sampai akhirnya aku berhasil menemukan kuncinya kembali :)
Jika memang benar, kamu adalah orang yang telah ditakdirkan Tuhan untukku.. apapun yang terjadi, dalam kondisi dan situasi apapun, aku percaya bahwa Tuhan pasti akan mengembalikan dan mempertemukan kita kembali.. tak peduli dengan siapapun kau sekarang, itu tak jadi masalah jika akhirnya nanti kau denganku. Karena aku masih menunggumu. Disini.
Dan aku tidak perlu takut karena ada Tuhan yang sudah mengatur segalanya.
Tugasku sekarang hanya menjalani hidup seperti air mengalir, membiarkan waktu yang berjalan dengan semua yang terjadi sebagai pelajaran untukku.
Februari... bulan yang begitu istimewa untukku.
Bulan yang sudah 3 tahun ini selalu menyisipkan kenangan yang begitu indah diantara kita berdua.
Semoga februari mendatang Tuhan juga menskenariokan hal yang sama indahnya. Amin.. :)
Tentunya dengan melalui perantara-perantara hebatnya.
Untuk februari 2013 kali ini, Tuhan mengukir kisah kita berdua melalui perantara dua makhluk usil ini (kikik dan pepi) karena tanpa mereka berdua, kado itu tak akan sampai ditanganmu.
Aku tidak akan melupakan kebaikan sekaligus kegilaan mereka berdua yang telah begitu berani membantuku..
Dan mengenai gang dekat rumahku, aku seringkali terdiam ketika melewati gang itu.
Tersenyum sendiri seperti orang gila, seolah masa itu terulang kembali karena masih sangat jelas teringat dipikiranku.
Ternyata sudah sangat lama aku mengagumimu, dan sudah sangat lama juga aku belum bisa move on dari bayang-bayangmu.
Sepertinya hatiku sudah terkunci rapat untuk orang lain, hanya ada kamu didalam situ.
Ingin rasanya aku membukanya kembali dan mengeluarkanmu dari sana. Tapi.. apa daya aku sudah membuang jauh-jauh kuncinya, yang tak pernah kutemukan lagi dimana keberadaannya.
Sehingga aku tak bisa berbuat banyak. Biarlah.. aku juga tidak keberatan menempatkanmu disitu, bahkan untuk waktu yang saaaangat lama.. sampai akhirnya aku berhasil menemukan kuncinya kembali :)
wih keren deh ,, kunjungi balik ya
BalasHapussiip!!!!
BalasHapus