selamat datang dibloggerku, semoga harimu menyenangkan. selamat membaca dan jangan lupa kembali yaa. terima kasih :)

Rabu, 06 Juni 2012

wisuda kakak kelas tercinta angkatan tahun 2011/2012. haruskah ku sebut namamu?

Sabtu 2 juni 2012

Pagi itu berjalan layaknya pagi-pagi sebelumnya.
Namun ini berubah menjadi pagi yg luar biasa untukmu, karena pagi ini wisuda angkatan tahun pelajaran 2011/2012 akan digelar.
Aku memang bukan bagian penting disini,aku hanyalah salah satu dari
puluhan siswa paduan suara yang ikut berpartisipasi dalam acara ini.
Aku memang anak baru di kelompok paduan suara, karena aku baru saja
bergabung beberapa hari sebelum wisuda dilaksanakan.

Apakah kau tau apa yang membuatku tertarik untuk bergabung pada kelompok paduan suara itu? Ah,aku yakin pasti kau tak akan peduli. Ya! Benar! Aku mengikutinya hanya karena aku ingin melihatmu, memandangi senyummu , menyaksikanmu menjadi murid SMA untuk yang terakhir kalinya.
Acarapun segera dimulai, aku yang berdiri dibalcon atas aula, dan itu tepat berada didepan deretan tatanan rapi kursi para wisudawan.
Dari atas sini sungguh terlihat sangat jelas kursi yang berjajar rapi serta siapa saja yang mendudukinya.
Kala itu tak banyak wisudawan yg sudah menduduki kursi-kursi.
Hanya sebagian kecil yang telah berpenghuni.

Detik berubah menjadi menit, dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berubah menjadi jam.
Hingga akhirnya kursi-kursi yang tadinya kosong kini telah diduduki oleh pemiliknya.
Namun tak kunjung ku lihat wajahmu.
Aku yang terus berbicara dalam hati, "mana dia tuhan, dimana dia?" dan pada akhirnya terlihat seorang yang kutunggu-tunggu masuk lewat pintu depan aula dan berjalan menuju kursi tempatnya yang tak jauh dari pintu tengah yang berada disamping kanan aula dari pintu masuk.

Seorang temanku Annisah Astalavista yg tak jauh dariku memberi tahu, jika orang yg kutunggu-tunggu sudah memperlihatkan dirinya.
Dan aku pun sudah tau jika itu memang kamu.
Berjalan gagah dengan potongan rambut berjambul. Hey! Aku yakin jika jambul khatulistiwa syahrini tidaklah ada apa-apanya dibandingkan dengan jambulmu yang mampu mempesonakan banyak orang itu. Termasuk AKU!

Entah apa yang membuatku tak sanggup menahan derasnya air mata yang tiba-tiba jatuh begitu saja.
Aku hanya dapat menundukkan kepala, tak mau orang mengetahui jika aku menangisimu.
Dan Annisah Astalavista yang berada tak jauh dariku mengetahui tindak konyolku itu dan segera memberi puk-puk dibahuku "ini bukan yang terakhir kalinya buat ketemu kok puu" ungkapnya mencoba menghiburku.
Tuhan, aku tak tau apa yang ada pada otakku kala itu, seakan syaraf-syarafku mati rasa dan hanya tangislah yang mampu mengungkapkan segala rasa itu. aku yang mengira ini hanyalah ketertarikan sesaat.
Yang akan terbunuh oleh waktu. Lagipula, aku tak berani menganggumu, apalagi menyapamu lebih dulu, apalagi mengetahui berita terhangat tentangmu.
Jadi... aku hanya bisa mendoakanmu. Tak lebih.
Dan berharap semua mengalir dan berjalan seperti ini.
Dan berharap perasaan bodoh ini tak meletup dan mencuat lebih kuat lagi.
Kamu menceritakan tentang surga di telingaku.
Kamu malaikat yang menyanyi merdu di telingaku.
Tentu saja, aku tidak akan berbicara banyak.
Aku tak akan meyakinkanmu untuk mengenalku lebih jauh.
Aku juga tak akan menyadarkanmu tentang sosokku.

Aku tentu saja tak akan memaksamu untuk mengetahui sosokku yang bukan siapa-siapa ini.
Kamu tentu tak mengetahui sosokku yang tersembunyi di antara ribuan pengagummu.
Aku terlalu kecil dan bukan siapa- siapa bagimu.
Cukup! Tujuanku memang bukan itu.
Aku hanya tak ingin kegilaanku mengusik hari- harimu.
Semoga kita masih tetap bisa bertemu lagi ya.

Aku mencoba menahan kesakitan ini hingga ujung lelahku.
Mungkin memang sudah terlalu dalam rasa yang kumiliki padamu, sehingga terasa ngilu dan membuatku kaku tak berdaya.
Aku...yang berada pada barisan ketiga pada jajaran grup paduan suara.
Dengan posturku yang tidak terlalu tinggi ini mampu membuat bayangmu kabur tak terlihat lagi.
Namun, dari sini. Dari sudut terumitku.
Aku masih saja mengais-ngais mencar-cari dimana sosokmu dari celah serta sekat kecil kerumunan para siswa paduan suara.
Aku tak habis pikir. Aku yang rela melakukan hal sekonyol ini hanya untuk memandangimu
Aku yang rela menyusahkan diriku sendiri hanya untuk memperhatikanmu agar tak hilang dari pandangan

UNTUKMU... Orang yang belum tentu mau berbuat konyol serta kesusahan karenaku.
Dia hanya tahu apa yang ada di depan matanya.
Bagaimana bumi mengalir Bagaimana kehidupan berputar dan bagaimana masalah silih berganti datang.
Aku... berpendar di bola matanya seperti bayang-bayang tubuhnya di siang bolong yang menghilang jika sinar mentari berubah jadi jalang.
Kita... tak pernah menganggap kebersamaan ini adalah sepaket kiriman Tuhan.
Kebersamaan yang kami tahu membisu ragu-ragu.
Aku dan dia berdua tapi tak terikat.
Kita bersama tapi tak saling memiliki. Sikap gengsi yang memantik api MATI!
Dia enggan bicara masa depan absurd tak pasti mungkin hanya mimpi. apalagi bersamaku?

untuk seseorang yang selalu meminta saya untuk menunggu, entah sampai kapan dia akan selalu membuatku menunggu.
Disitu, dari atas balcon itu aku terus memandangi sudut indah dirimu.
Bayangmu seakan mampu mengalahkan segala yang menghalangiku.
Wajahmu tak terlihat begitu jelas, tapi itu sama sekali tak mengurangi sedikitpun semangatku untuk memfokuskan pandangan kearahmu, meski jelas-jelas wajahmu membelakangiku.

Kau yang sibuk dengan telephone genggammu.
Kau yang sibuk beradu kata dengan teman-teman disampingmu.
Kau yang tak jarang mengumbar senyum hingga semua terkesima.
Tanpa tau, ada aku yang selalu memperhatikanmu, aku yang tak pernah mau melewatkan setiap jengkal pergerakanmu.
Mataku yang selalu antusias jika objek yang dipandangi adalah kamu.
Seolah ada gaya magnet yang sangat kuat sehingga menarikku untuk terus memandangmu.
Absurd, konyol memang. Tapi, bukankah cinta mampu membuat orang waras menjadi gila? Orang sehat menjadi sakit? Orang pandai menjadi begitu bodoh?

Ya! Harus ku akui itulah hebatnya cinta.
Tak ada satu makhluk pun yang mampu menolak kedatangannya. Aku berani pastikan itu!
Hey, kau yang duduk dikursi itu! Siapa kau? Bisa-bisanya membuatku menjadi tak waras seperti ini?
Kau yang tiba-tiba datang menyelonong masuk lalu mendobrak pintu hatiku.
Dan memberi arti berbeda dalam hidupku.
Kau yang penuh dengan tanda tanya namun mampu membuatku tersenyum bahagia.
Kau yang teristimewa hingga membuatku tak bisa lupa.
Kau yang berbeda hingga mampu membuatku jatuh dan merana. 
Kau yang tak mempertanggung jawabkan perasaan yang terlanjur ada. 
Kau yang menoreh sesak hingga membuatku menangis terisak.

Rasa yang begitu absurd dan sulit untuk dideskripsikan lagi.
Kamu membawa jiwaku melayang dan mencuri hatiku lalu kau bawa lari ke negeri antah-berantah, dan mengasingkan aku ke dunia yang bahkan aku pun tak mengetahuinya.
Bagaimana mungkin aku bisa menemukan yang lebih baik, jika kau lah orang yang terbaik?
Bagaimana mungkin aku bisa menemukan yang lebih sempurna jika kau lah orang yang paling sempurna?
Aku benci perpisahan! Bukankah kita tidak pernah merencanakan pertemuan? Lalu mengapa harus ada perpisahan?

Aku ingin meluapkan segala rasa.
Aku ingin menangis sejadi-jadinya, dan itu atas dasar cinta!
Entah harus kusebut apa dan bagaimana.
Aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu.
Aku tak pernah mengerti apa yang ada diotakmu, apalagi dihatimu?
Tentu aku tidak pernah mengetahuinya karena semua itu terlampau rumit bagiku.
Dengan sadar atau tidak aku selalu menuruti hal-hal kecil yang terlontar pasti darimu.
Haruskah kusebutkan satu per satu? Aku rasa tidak perlu.
Aku yakin kau pasti mengetahui jika memang benar kau peduli.
Entah yang ku lakukan itu berarti atau tidak,
Entah itu dihargai atau tidak.
Yang jelas itu tulus aku lakukan sebagai wujud kecintaanku padamu.

Dan aku pun tak pernah menuntut ketika apa yang aku sarankan tak pernah kau lakukan, ketika yang kau ungkapkan tak pernah kau lakukan.
Karena aku tak pernah memaksakan
Aku yang merasa saaaangat kehilangan, sementara kamu? Jelas! Aku tak tau! Mungkin kau tidak mempedulikan hal itu, atau mungkin sebaliknya? Ah! Aku tak tahu apa perasaanmu!
Setau dan seingatku kau yang begitu mudah memintaku untuk segera melupakanmu. Hey! Begitu mudah kau mengatakan itu tanpa tau perasaanku yang jatuh bangun karenamu!

Jika melupakan adalah hal mudah, tentu itu akan aku lakukan jika kau yang memintanya.
Tapi maaf, aku bukan tipe perempuan yang begitu acuh tak acuh pada perasaan yang telah tergambar.
Ah! Sudahlah! Ribuan kali ku jelaskan kau juga tidak akan pernah mengerti dan tau perasaanku.
Kau dengan perasaanmu yang tak mau tau itu begitu menyiksa, terpapar sangat jelas yang dibalut sikap dingin serta cuekmu itu.
Tak banyak yang bisa ku lakukan selain mengikhlaskan serta mendoakan segala yang terbaik untukmu.
Tak ada lagi yang harus ku perjuangkan selain membiarkanmu pergi.

Aku hanya menikmati luka, hingga terbiasa dan menganggapnya tak ada.
Kehilangan yang begitu menyakitkan telah menjadi candu yang ku nikmati sekarang.
Ku saksikan dari jauh, mendengar namamu dipanggil untuk menerima tanda kelulusan itu sudah menjadi kelegaan tersendiri.
Asa yang akhirnya mampu meluruhkan segala harap memupuk rasa bahagia ketika kau dengan gagahnya berdiri dipanggung wisuda.
Aku yang berbicara pada dunia "itulah dia, dia yang selalu aku kagumi sepanjang hari."

Hanya dapat menghela nafas panjang, mencoba mentabahkan hati dan mentegarkan jiwa.
Ya! Teman usil yang berada tepat dibelakangku.
Siapa lagi kalau bukan Alifand Masrizky! Dia terus menambah tingkat kegalauanku dengan kata-kata yang terlontar dari mulut usilnya itu. "hey put!" panggilnya manja. "bagaimana nanti kalau kau tak bisa lagi melihat senyumnya? Melihat senyum yang selalu kau idolakan itu?" dengan jengkel dan sedikit tawa memaksa,ku menjawab "aku tak perlu risau akan hal itu,aku masih bisa melakukan kegilaanku itu melalui gambar dua dimensinya yang aku miliki di galery telephone genggamku!". "put,aku tau kamu menahan tangis. Iya kan? Sudahlah gak usah sok tegar" tuturnya kembali. "maaf ya,aku bukan tipe orang yang suka menangis didepan umum" balasku.

Sebisa mungkin aku mengalihkan pembicaraan agar tak membahas hal konyol yang sangat ampuh mengundang tangisku itu.
Waktu terasa begitu lamaa. Dan selesailah grup paduan suara menyanyikan 7 lagu yang sudah dipelajari selama beberapa minggu terakhir ini.
Tapi itu belum cukup rasanya. Jika boleh request, aku ingin teman-teman paduan suara menyanyikan lagu dari utada hikaru "first love" yang khusus dinyanyikan untukmu.
Atau? Apa perlu aku sendiri yang menyanyikan itu didepanmu? Ah! Tentu jelas saja tidak mungkin! Aku tidak sePeDe itu. Aku tidak cukup percaya diri dengan kemampuanku, dengan penyakit demam panggung yang tak mampu kukendalikan itu.
Sedikit memalingkan muka, aku pun bergegas pergi menjauh meninggalkan aula.

Sebenarnya aku ingin ikut memberikan ucapan selamat atas kelulusanmu.
Tapi aku sadar itu tidaklah penting bagimu, maka aku hanya cukup mengatakannya dalam hati dari kejauhan ku memandangmu.
Ketika sedang menuruni tangga.
Terlihat disudut meja panitia, duduk bu luluk yang berdampingan dengan bu maria guru sosiologi yang suka menggodaku dengan topik tentangmu.
Beliau pun menegurku "looh bu *ttiitt* *sensor* (panggilan yang biasanya ia berikan kepadaku yang berisikan namamu) kok sudah pulang? Kamu nggak nemenin masnya ta? Tadi masnya cakep banget pakek jas hitam. Kamu nggak foto bareng juga ta?" hanya tertegun serta terdiam.
Aku menyimpulkan senyum kebingungan karena tak tau harus menjawabnya dengan kata apa.
Dan tiba-tiba bu luluk yang duduk bersebelahan dengan beliau ikut menanggapinya
"oh jadi kamu sama mas itu? Ya ampun, yaudah. Sudah cocok kok" dan aku hanya mampu tersenyum dan membalasnya dengan kata TerimaKasih sambil mengamininnya dalam hati.

Aku sadar jika aku mulai suka air mata yang seringkali jatuh karnamu.
Aku mulai menikmati saat-saat nafasku sesak ketika mengingatmu.
Aku mulai jatuh cinta pada rasa sakit yang kau ciptakan selama ini.

Terimakasih

Indahnya luka yang kau beri padaku membuatku terus belajar dan memahami

Galau, isak tangis bagaikan dua sejoli yang selalu menjajaki malamku karena rasa kecintaan yang terbalut dalam luka sedalam ini

Orang yang selalu mengajariku tentang ketegaran serta arti kedewasaan, yaitu kamu.

Rasa ini membuatku jadi tambah sering menulis, lebih banyak dari biasanya.

Aku semakin percaya, bahwa kahlil gibranpun butuh rasa sakit agar ia bisa menuliskan banyak hal.
Sama seperti aku, butuh rasa sakit agar bisa lancar menulis.
Terutama semua yang bercerita tentangmu :)

with love, puuha putrii :)

1 komentar:

  1. puuheee sayang, tegaryaa! itu orang pasti oddong kalo ega liat tulisan yang dibold sm kamu :) jangan nangis lagy, cintamuu bakal tumbuh dan jodoh ga akan kemana. tuhan akan jatuhkan dia didalam hati dan hidupmu untuk selamanya :*

    BalasHapus